Akhirnya aku putuskan untuk curhat dengan Dani lewat telepon. Aku tidak bisa bertemu langsung dengan Dani karena dia sedang kuliah di luar kota. “Dan, semenjak Steve ke
Ausie, dia pernah ngehubungin lo gak?,” tanyaku. “Enggak Ryn. Emangnya
kenapa?,” sahut Dani. Aku langsung menceritakan semuanya kepada Dani. “Sabar
Ryn, mungkin dia lagi sibuk banget disana. Dia udah janji kan sama lo bakal
balik? Lo percaya kan sama dia?.” kata Dani. Mendengar perkataan Dani akupun
merasa agak tenang. Aku hanya bisa berpikir positif tentang Steve. Esoknya saat
di kampus, aku merasa lemas dan tidak ada semangat. Tiba-tiba Galang datang
menghampiriku. “Eh kenapa kok wajah kamu murung gitu sih? Mikirin Steve ya?,”
tanya Galang. “Ih apaan sih. Engga ah,” jawabku. “Udah gausah dipikirin, Steve
kan lagi kuliah disana. Kamu juga harus mikirin kuliah kamu disini.
Mudah-mudahan nanti kalian bakal ketemu kalau kalian udah jadi orang sukses,” kata
Galang. Aku tidak percaya Galang mengeluarkan kata-kata itu. Dia memberiku
semangat. Dia juga memberikan solusi untuk permasalahanku dengan Steve. Aku
merasa Galang terlalu baik kepadaku. Aku takut dia menaruh harapan kepadaku
tetapi aku malah menghancurkan semua harapannya. Aku tidak bisa melupakan Steve
begitu saja. Ya, tiga tahun sudah kami tidak berkomunikasi lagi. Aku mulai
lelah dengan semua ini tapi perasaanku tidak bisa dibohongi, aku masih
menyayangi Steve. Tetapi aku mulai khawatir dengan balas budiku kepada Galang..
Jatinangor 29 Juli 2012
By: Sitta Oktaviana
No comments:
Post a Comment