Sunday, July 29, 2012

Liontin Biru

This is synopsis of my second short story. 


Akhirnya aku putuskan untuk curhat dengan Dani lewat telepon. Aku tidak bisa bertemu langsung dengan Dani karena dia sedang kuliah di luar kota. “Dan, semenjak Steve ke Ausie, dia pernah ngehubungin lo gak?,” tanyaku. “Enggak Ryn. Emangnya kenapa?,” sahut Dani. Aku langsung menceritakan semuanya kepada Dani. “Sabar Ryn, mungkin dia lagi sibuk banget disana. Dia udah janji kan sama lo bakal balik? Lo percaya kan sama dia?.” kata Dani. Mendengar perkataan Dani akupun merasa agak tenang. Aku hanya bisa berpikir positif tentang Steve. Esoknya saat di kampus, aku merasa lemas dan tidak ada semangat. Tiba-tiba Galang datang menghampiriku. “Eh kenapa kok wajah kamu murung gitu sih? Mikirin Steve ya?,” tanya Galang. “Ih apaan sih. Engga ah,” jawabku. “Udah gausah dipikirin, Steve kan lagi kuliah disana. Kamu juga harus mikirin kuliah kamu disini. Mudah-mudahan nanti kalian bakal ketemu kalau kalian udah jadi orang sukses,” kata Galang. Aku tidak percaya Galang mengeluarkan kata-kata itu. Dia memberiku semangat. Dia juga memberikan solusi untuk permasalahanku dengan Steve. Aku merasa Galang terlalu baik kepadaku. Aku takut dia menaruh harapan kepadaku tetapi aku malah menghancurkan semua harapannya. Aku tidak bisa melupakan Steve begitu saja. Ya, tiga tahun sudah kami tidak berkomunikasi lagi. Aku mulai lelah dengan semua ini tapi perasaanku tidak bisa dibohongi, aku masih menyayangi Steve. Tetapi aku mulai khawatir dengan balas budiku kepada Galang..

Jatinangor 29 Juli 2012

By: Sitta Oktaviana

Wednesday, July 25, 2012

"Ara, Bidadariku"

Di bawah ini cuma sinopsisnya aja ya guys haha =)

Pagi itu aku masih santai, menunggu adikku Aurora selesai sarapan. “Huh, lama sekali. Raa… cepetan dong, kakak udah telat nih.” Kataku. Kita berdua akan berangkat ke sekolah bersama ayah. Aurora sudah menginjak kelas 2 SMP, sedangkan aku kelas 1 SMA. Ya, aku sedang mengikuti masa ospek di sekolah. Lalu kami pun bergegas berangkat bersama. Sekolah Ara memang gak jauh dari sekolahku. Setelah mengantarkan kami berdua, ayahpun berangkat kerja. “Taaa… Taaa!”, ada suara bocah laki-laki yang memanggilku. Dia Daniel, teman satu kelompok ospekku. “Bareng dong ke kelasnya, ta. Eh iya ngomong-ngomong kamu tadi berangkat sama siapa?”, Tanya Daniel. “Aku dianter sama ayah, bareng Ara juga kok”, sahutku. Daniel itu sering banget nawarin aku berangkat bareng, karena rumah Daniel satu komplek dengan rumahku. Sesampai di kelas, wajahku pucat, aku masih bĂȘte sama Ara adikku. Ayah sama Bunda sepertinya lebih memanjakan dia. Semua yang Ara minta pasti selalu dipenuhi. Pikiran ini masih saja terngiang di kepalaku. Setelah mendengarkan senior memberi pengarahan ospek, kami pun bergegas keluar kelas dan berkumpul di lapangan.

Jatinangor, 25 Juli 2012
By: Sitta Oktaviana