Thursday, August 2, 2012

Sebuah Nama


Sejak lahir aku belum tahu namamu
Sayap-sayapmu menghangatkanku
Ketulusan itu memancar indah

Ku tatap matamu nan elok dan bening bagai embun
Bisa ku rasakan bibirmu sesekali bergerak
Seolah kau ingin mengatakan sesuatu

Aku tidak mengerti dengan semua itu
Mengapa kau selalu ada disampingku?
Di saat pagi, siang, malam, bahkan saat ku dengar rintikan hujan

Sesekali kusentuh rambutmu yang indah
Sesekali ku rasakan detak jantungmu
Duniaku terasa indah dan nyaman

Tak bisakah aku merasakan itu lagi?
Tak bisakah ku rasakan hangatnya pelukan sayap-sayapmu?
Kini aku tahu namamu, kau adalah bidadariku, dengan nama IBU 

Yang Sulit Diungkapkan


Dimanapun, kapanpun, selalu kuingat
Bayang-bayang semu itu
Ku rasa lelah dan jenuh

Ingin sekali kuseret langkahku 
Meninggalkan kejenuhan yang tak berujung
Ku cari jawaban, ku cari alasan

Namun semua itu sia-sia
Tidak ada yang mendengar
Mungkin, hanya angin dan rintikan hujan yang ada

Ilalang pun bisa merasakan
ketika ia dihempas angin dan hujan
hanya saja ia tak mampu mengungkapkan

Jatinangor, 2 Agustus 2012
S. O