Pagi
itu aku masih santai, menunggu adikku Aurora selesai sarapan. “Huh, lama
sekali. Raa… cepetan dong, kakak udah telat nih.” Kataku. Kita berdua akan
berangkat ke sekolah bersama ayah. Aurora sudah menginjak kelas 2 SMP,
sedangkan aku kelas 1 SMA. Ya, aku sedang mengikuti masa ospek di sekolah. Lalu
kami pun bergegas berangkat bersama. Sekolah Ara memang gak jauh dari
sekolahku. Setelah mengantarkan kami berdua, ayahpun berangkat kerja. “Taaa…
Taaa!”, ada suara bocah laki-laki yang memanggilku. Dia Daniel, teman satu
kelompok ospekku. “Bareng dong ke kelasnya, ta. Eh iya ngomong-ngomong kamu
tadi berangkat sama siapa?”, Tanya Daniel. “Aku dianter sama ayah, bareng Ara
juga kok”, sahutku. Daniel itu sering banget nawarin aku berangkat bareng,
karena rumah Daniel satu komplek dengan rumahku. Sesampai di kelas, wajahku
pucat, aku masih bête sama Ara adikku. Ayah sama Bunda sepertinya lebih
memanjakan dia. Semua yang Ara minta pasti selalu dipenuhi. Pikiran ini masih
saja terngiang di kepalaku. Setelah mendengarkan senior memberi pengarahan
ospek, kami pun bergegas keluar kelas dan berkumpul di lapangan.
Jatinangor, 25 Juli 2012
By: Sitta Oktaviana
No comments:
Post a Comment